Tuesday, December 29, 2009

Safety Guidelines Tips Shooting with Video-Camera

I would like to give these guidelines if you want to shoot an event using your video camera. You may break the rule if you want to give certain effect to your footage or if you do it for a good purpose. These are just safety guidelines for those who have just recently bought a new camera and want to become pro. These experience I picked from my experience as a cameraman for five years doing wedding, graduation, seminar, and other events.[ Saya ingin memberikan panduan jika anda ingin merekam sebuah acara menggunakan kamera video anda. Anda boleh saja melanggar aturan yang saya buat untuk memberikan effek tertentu jika anda melakukannya untuk tujuan yang baik. Ini hanya panduan yang aman saja untuk mereka yang baru saja membeli kamera dan ingin menjadi seorang yang proffesional. Pengalaman ini saya ambil dari pengalaman pribadi saya sebagai seorang kameraman selama 5 tahun melakukan kegiatan shooting pernikahan, seminar, dan acara-acara lain]

1. Know the capability of your camera before you shoot.  Some camera are better than others. Some have good low light technology and some don't. Be always prepare to equip your camera with additional gadget to maximize its performance. If you are going to shoot a wedding outside during evening hours, it's better to have a small light about 300 w install ontop of your camera or if your camera is very sensitive to low light, you can also put a smaller wattage light portable ones with batteries.[ Ketahui kemampuan kamera anda sebelum anda mengambil gambar. Ada kamera yang lebih baik dari pada kamera yang lain. Ada yang memiliki kemampuan merekam yang baik dalam cahaya yang redup dan ada pula yang tidak. Selalu siapalah untuk melengkapi diri anda dengan peralatan tambahan untuk memaksimalkan performa kamera anda. Jika anda akan mengambil pernikahan diluar saat jam malam, maka lebih baik anda memasang lampu 300 watt diatas kamera anda atau jika kamera anda sensitif terhadap cahaya yang redup anda bisa menggunakan lampu dengan watt yang kecil saja]

2. Make use of  your camera to the maximum limit. Usually I would record manually. Adjust the white balance; open the optic; play with the F. All professional camera and amateur ones even can be used manually to achieve its maximum result. Don't use its automatic feature or default unless the surrounding is well lit and would not cause any back light. You can have a stable shot and good result if you do it using manual feature.[Manfaatkanlah kamera anda untuk mencapai batasan yang maksimal. Biasanya saya merekam secara manual. Setel whitebalancenya; optik; mainkan F nya. Semua kamera proffesional dan amatir bahkan bisa disetel secara manual untuk mencapai hasil yang maksimal.  Jangan menggunakan fiturnya yang otomatis atau default kecuali jika lingkungan sekitar anda terangnya bagus dan tidak menimbulkan back light.

3.Use the antishake feature of your camera if you move around alot.[Gunakan fitur anti goyang dari kamera anda jika anda sering bergerak ]

4. If you have to walk as you shoot be very careful so as not too make much shakiness.[ Jika anda harus berjalan sambil mengambil gambar, hati-hati supaya tidak menimbulkan banyak goncangan]

5. Be careful using zoom feature of your camera. Most video camera have fast zoom and slow zoom (half zoom) feature. Be very wise with it. I would recommend using slow zoom if you are to take a wedding footage. Don't play around by zooming back and fort. One way zoom is better. If you want to zoom to take a close up view and then move to take wide view, take a long pause first after the close upview and then you can go to the wide view slowly.  Again it's good if you use the slow zoom for this instance. Another thing with zooming if you are far away from the object that you shoot, you would likely not able to shoot a stable footage. Use your tripod instead or you can get closer to the object to the point where shot can be taken without much shaking.  [hati-hati menggunakan fitur zoom dari kamera anda. Kebanyakan video kamera memiliki zoom cepat dan zoom pelan/ setengah zoom. Bijaksanalah saat menggunakanya.  Saya lebih merekomendasikan zoom pelan jika anda mengambil pernikahan. Jangan bermain dengan zoom dengan dizoom dan ditarik dan berulang-ulang. Satu arah zoom lebih baik. Jika  anda ingin zoom untuk mengambil viewing yang dekat dan kemudian mengambil viewing yang jauh, berikanlah pause dulu beberapa saat setelah close up dan kemudian barulah anda tarik kebelakan untuk mengambil wide view dengan pelan-pelan. Satu hal lain mengenai zooming, jika obyek yang anda ambil terlalu jauh maka kecenderungan pasti sulit untuk meredakan goncangan. Gunakanlah tripod anda atau anda bisa mendekat ke obyek yang anda ambil ke titik dimana anda bisa mengabil gambar tanpa adanya goncangan yang banyak.]

7. Be creative in your angle shot by varying your shot. If you have two camera, it's better to bring two
at least if it is an important event such as wedding. You can have a better varying angle shot if you shoot with two camera or more. For certain event you don't need two camera. If you are shooting a school trip or your own son's birthday, one camera is enough. [ Jadilah kreatif dalam anda mengambil angle gambar dengan cara memvariasi pengambilah gambar anda. Jika anda memilik 2 kamera maka lebih baik membawa dua jika acara itu sebuah acara yang penting seperti pernikahan. Anda bisa mendapatkan angle gambar yang bervariasi dengan 2 kamera atau lebih. Untuk acara-acara tertentu anda tidak membutuh 2 kamera. Jika anda mengambil wisata sekolah atau ulang tahun anak anda sendiri, 1 kamera sudah mencukupi]


6.Be always prepare with spare camera batteries if  an event is long. Bring your charger all the time. It will come very handy.[Selalu siap dengan bateri cadangan jika sebuah acara panjang. Bawalah charger anda selalu. Charger anda akan bermanfaat sekali.]

7.  Knowing the location , time and run-down of  the event beforehand is better. It will give you a hint of what equipment you should bring or what you should prepare. You should bring an extra lighting if you are doing a footage in a dimmer lit hall. You don't have to always direct the light  on the stage where the newly wed is. You can bounce the light on the wall to give softness to the object that you shoot.[ mengetahui lokasi, waktu dan alur acara sebelum acara dimulai lebih baik untuk dilakukan. Hal ini akan memberikan anda tip dengan sendirinya apa yang anda harus siapkan dan bawa. Anda harus membawa lighting tambahan jika anda melakukan pengambilan gambar di aula yang lampunya kurang terang. Anda tidak harus selalu mengarahkan lampu ke panggung dimana pengantin baru berada. Anda bisa memantulkan lampu pada tembok untuk memberikan kelembutan pada obyek yang anda ambil.]

8.Set your audio sensitivity to its "max". This is a difficult one from my experience because I always have to change the sensitivity of the audio when I have to move to different environment. In church or mosque usually the sound is not as loud as if you are in a reception hall equipped with loud sound system. If you want to record with clarity usually you have to direct the audio in the line audio input of your camera. If you want to interview someone you have to bring a mic and direct it in the line input of your camera. If you are shooting a concert, well you have to record the sound from an audio mixer directed to your camera.Or better yet have a video mixer with audio line in and record it in one tape using a video switch ( this last one is expensive to do because usually it's for broadcasting purposes). If you are small budget wedding service, some people record the reception using a portable recorder to give clarity and then paste and synchronize the audio during the editing process. This one is a rigorous process since sometimes you have to synchronize the movement of the mouth of the speakers or singers.[Setelah kesensitifan audio anda sampai "maksimal". Ini sulit bagi pengalaman saya karena saya harus mengubah kesensitifan audio ketika saya harus pindah ke lingkungan yang berbeda. Di gereja atau masjid biasanya suara tidak begitu keras dibandingkan dengan aula yang dilengkapi dengan sound sistem . Jika anda ingin merekam dengan kejernihan  biasanya anda harus mengarahkan langsung kabel ke input audio dikamera anda. Jika anda mengambil gambar konser, anda harus merekam langsung dari audio mixer atau lebih baik jika anda memiliki video mixer dilengkapi dengan audio in nya dan merekamnya dalam satu kaset dengan menggunakan video switcher (yang ini mahal untuk dilakukan karena biasanya untuk tujuan broadcasting). Jika  jasa pelayanan wedding anda budgetnya kecil, anda bisa menggunakan alat perekam portable untuk merekam secara jernih dan kemudian mensinkronkannya kedalam audio saat proses editing dilakukan]


9. Don't shoot too much of the object from the back side. Since expression of face or capturing feeling is important you should always keep in mind to shoot from the front side or in the area of 180* (180* angle rule). For making movie or giving certain effect is good breaking this rule if you are doing it for a purpose. But for most wedding event following the 180 degree  rule or shooting from the front side to capture expression or around the 180* angle area is better than to shoot the back side of a person. [Jangan mengambil gambar dari belakang obyek. Karena expressi muka dan menangkap perasaan penting sekali dalam sebuah acara, anda harus selalu ingat untuk mengambil gambar dari depan atau setidaknya didaerah 180 derajat (180* angle rule/ aturan 180*). Untuk membuat sebuah filem atau memberikan kesan tertentu adalah baik jika anda ingin melanggarnya untuk sebuah tujuan yang baik.  Tetapi untuk kebanyakan pernikahan mengambil gambar di daerah 180*  untuk menangkap expressi seseorang lebih baik dari pada mengambil bagian belakang seorang saja.]


* If you do not know what 180* angle is , this video link will give you the idea:
[jika anda tidak tahu apa itu aturan 180*, tautan video ini akan mejelaskan maksudnya apa]




10. Last but not least, be calm and know what you are doing. Good shot usually is done better if you're calm relax,  purpose minded, and have fun while doing it. [terakhir tetapi tidak kurang, tenanglah bila anda sedang mengambil gambar dan sadari betul apa yang sedang anda lakukan.  Pengambilan gambar biasanya lebih baik hasilnya jika anda tenang, relax, bertujuan, dan senang saat anda melakukannya.]

Thursday, November 5, 2009

Shooting With Multicam Video Camera

Shooting with more than one camera is always better than shooting with only one. If you serve wedding documentation, multicam is an obligation because other than being classy, it gives better impact on variation of angle. Multicam wedding production of course must be coordinated carefully so that the result of video will be optimum. You as the producer must arrange the whole coordination of your men so that once when you edit your video, it won't post problems: This is how you should  set it up when you use two video camera with dv cassettes: This technique I usually use with my team. (Mengambil gambar dengan lebih dari satu kamera selalu lebih bagus dari pada satu kamera. Jika anda melayani dokumentasi video, menggunakan multi kamera adalah wajib karena selain berkelas, hasil akan memberikan pengaruh besar terhadap variasi angle. Produksi video pernikahan harus dikoordinasi dengan hati-hati supaya hasil dari video maksimal. Anda sebagai produser harus mengatur semua koordinasi dari orang-orang anda supaya nanti kalau di edit, tidak akan memunculkan masalah bagi anda. Ini cara bagaimana anda harus menyeting ketika anda menggunakan 2 kamera merekam dengan kaset dv)

1. One cameraman must focus in the sound, a fixed angle, and has to keep on recording without stop (usually the part of wedding ceremony which is not important, will not have to be recorded).  Place one of your cameraman where he can shoot the newly wed, audience, the newly wed's parents, the preacher and at the same time if there is a choir make his position reachable for this part too. This person usually uses the tripod and if he has to move around, he can move around with his tripod as well.( Satu kameraman harus fokus pada suara, satu titik angle, dan harus terus merekam tanpa henti ( biasanya bagian dari pernikahan yang tidak penting, tidak harus direkam). Tempatkan salah satu dari kameraman anda dimana dia bisa mengambil gambar pengantin, penonton, orang tua pengantin, pengkotbah( pendeta;romo; ustad), dan jika ada koor buatlah posisinya dapat menjangkau bagian ini juga.  kameraman ini harus mengguanakan tripod  dan jika dia harus berpindah, dia bisa pindah dengan tripodnya juga. )

2. Make the other cameraman as your mobile cameraman. he has to move around a lot and has to give variation to the angle of shot. (Note: in your editing stages, you have to insert or do overlays the shots by the mobile cameraman with the fixed cameraman). Make your mobile cameraman take as many shots as possible with different kinds of angle. Shots must not be too short or too shaky. Goods  shots usually must be taken with calm composure.( Buatlah kameraman yang lain menjadi kameraman yang mobile( mudah pindah-pindah). Dia harus sering pindah-pindah dan harus memberikan variasi terhadap angle gambar. (catatan: dalam bagian editing nantinya anda harus memasukan gambar gambar ini(insert) dan melakukan overlay gambar/ mixing gambar dengan gambar kameraman yang anglenya tetap. Buatlah kameraman yang mobile mengambil gambar sebanyak-banyak dari angle yang berbeda-beda. Pengambilan gambar tidak boleh terlalu pendek ataupun terlalu bergoncang.  Biasanya pengambilan gambar yang baik diambil dengan rasa tenang.)

These 2 great tips I think will make your wedding documentation better. I will add my video later to give the visual experience. (Dua tip yang bagus ini akan membuat dokumentasi pernikahan anda lebih bagus. Saya akan menambah contoh video saya untuk memberikan pengalaman secara visual)

Tuesday, September 22, 2009

Tips in making your video looks good; professional and artistic.

How do you make your shooting look good; professional and artistic?
(Bagaimana cara pengambilan gambar video baik; proffesional; dan artistik?)

This is my first recommendation that I get from my experience and this is specially for the shooting matters only. The still pictures for samples shots are taken from a wedding that I did in the recent job since I haven't deleted it yet.
(Ini saran pertama saya yang saya amati dari pengalaman pribadi dan ini saran untuk khusus pengambilan gambar saja. Gambar mati diambil dari acara pernikahan yang saya lakukan pada pekerjaan terakhir saya karena masih belum saya hapus.)


Shots should be diverse and not monotonous (Pengambilan gambar harus variatif dan tidak monoton).


I. Diverse in terms of viewing or angle. (Variatif dalam artian viewing/ angle).


Diverse here means shot taken from many different perspective. Technically it is angling or viewing. Video shoot based on view are varied.
(Maksud variatif disini adalah pengambilan sudut/angle yang berbeda-beda. Bahasa teknisnya view. Pengambilan gambar berdasarkan view bisa macam-macam:)

Bird's eye view: Shots from above somewhat slanting points towards the object on the ground. The camera guy with tall bodily posture can usually just hold it up high. Camera guy with short posture has to use high ground such as chairs, tables, top stage or sometimes may be install a stick-monopod for some situation. In the studio usually  arm-tracker is used to take bird's eye view.  In commercial  or sports program a remote-controlled helicopter, a plane, glider can be used to shoot from above.
(Bird's eye view / Pandangan burung: Pengambilan dari atas seperti burung melihat kebawah. Kamera man yang postur tubuh tinggi biasanya bisa melakukan ini dengan mengangkat kamera tinggi-tinggi. Kamera man yang postur pendek terpaksa harus menggunakan kursi; meja atau monopod. Di studio biasanya tracker digunakan untuk mengambil bird's eye view. Di filem komersil atau program olah raga helikopter remot, pesawat, glider bisa digunakan.)


face close up view:  Shooting directly to the face of the newly wed for the purpose of  showing facial expression or someone's feeling. In wedding video documentary, birthday, seminar, it is a must have. (mengambil gambar ke arah wajah karena ingin mempertontonkan expressi wajah atau perasaan seseorang. Dokumentasi pernikahan, ulangtahun, seminar wajib harus ada).



    Half close up view: Shooting with the object or person in half view. In wedding can be applied in many situation like when the newly wed with the bridemaids lining up before they enter the building, during meal time, "sungkeman"-(Javanese ceremonial when the newly wed has to ask for forgiveness to their parents and they kiss or hug after that / it can be said as a form of  blessing from  their parents); etc .  (mengambil gambar setengah badan. Di dalam pernikahan ini bisa diterapkan dalam banyak situasi contoh ketika mereka sedang berbaris sebelum masuk ke gedung, pengantin sedang  makan; sungkeman dsb.)

      Full body close up view: shooting full figure place the head and the legs in the camera view.
      (mengambil gambar penuh dari kepala sampai kaki. Contoh dalam acara pentas seni; atau konser).




      Long
      shot view: Shooting for the purpose of  giving the impression of global situation;  wide; big; and scenic.
      (mengambil gambar menekankan aspek suasana global; lebar ;besar dan pemandangan.).



      Worm's view: Shooting from the lower position as if you are a worm or an ant.
      (mengambil gambar dari bawah seolah-olah anda seekor cacing atu semut yang melihat ke atas).






      Side View: shooting totally from the left side or right side of the wed .
      ( mengambil gambar sepenuhnya dari kiri atau kanan pengantin)










      Back View:  Shooting the back-side of the newly wed but at the same time someone is  facing directly towards your camera.
      (Mengambil gambar dari belakang pengantin  tetapi pada waktu yang sama seseorang sedang menghadap kedepan kamera anda)





      Front view: Shooting the object totally facing your camera. This is done usually when you want to take group picture .
      (mengambil gambar dari depan. contoh: saat  foto bersama dengan pengantin).






      II. Diverse in the use of the Camera movement.

      The movement of camera can be diversified into many movements.
      Gerakan kamera video bisa di variasi bermacam-macam:

      Standing with a camera on a tripod on one angle point: The movement of camera is moved left to right or vice versa; up and down; slanting movement from left to right or vice versa. This movement depends on the object that you shoot. In most wedding I use this trick to shoot when the newly wed are shaking hands with guest. Approaching guest can be followed by this kind of movement.
       (Dengan kameramen/tripod berdiri tetap pada satu titik: kamera digerakan kanan kiri; atas bawah; Gerakan miring dari kiri ke kanan atau sebaliknya;Gerakan ini tergantung pada obyek yang anda ambil. Dalam kebanyakan wedding saya menggunakan trik ini ketika pengantin sedang berjabat tangan dengan tamu. Tamu yang sedang datang bisa diikuti dengan gerakan ini).


      Holding a camera on the upper side just like when carrying a luggage but the cameraman moving from left to right or vice versa. This is good when it is done toward one way only. This technique needs caution so to avoid shaking of  the camera.
      (Dengan kamera dibawa seperti tas dan kamera man bergerak ke satu arah ke kiri atau ke kanan: ini bagus dilakukan ke satu arah gerakan saja. kameraman harus berhati-hati supaya kamera tidak goncang. side view.)

      As you run you carry a camera: This movement is usually made to create an impression of walking or running towards something or chased by something.
      (Sambil lari atau jalan membawa kamera: gerakan ini biasanya banyak digunakan difilem untuk memberi kesan orang sedang jalan-jalan atau orang sedang dikejar atau mengejar sesuatu atau seseorang.)

      Twirling your camera slightly a quarter circle: This movement is good when you want object to appear slanted or in diagonal position. In most music concert cameraman likes to use this kind of movement.
      (Memutar kamera anda sedikit seperempat putaran: Gerakan is baik bila anda ingin menampakan obyek miring atau dalam posisi diagonal. Dalam kebanyakan konser kameraman suka menggunakan gerakan ini)

      Playing with the zoom feature from close up view to long- shot view; facial view to half body view and other combinations. This kind of movement is usually used to diversified the viewing that is taken from the front.
      (Pindah-pindah posisi zoom kamera dari jauh ke dekat / full body view ke half body few; face view ke half body dan kombinasi yang lain: gerakan ini biasanya digunakan untuk memvariasi atau obyek diambil dari depan)

      Playing with manual focus:  Moving the camera focus from one object to the next. One object is first focused and then it is blurred as you move to the next object. In most camera it can be done only using manual focus.
      (Mengunakan manual fokus: memindahkan fokus objek dari yang depan dan kemudian difokuskan kepada obyek yang dibelakang. Satu obyek fokus  dan kemudian tersamarkan sewaktu anda pindah fokus ke obyek berikutnya )


      Sunday, September 6, 2009

      The Content of Video Documentation in Weddings (Bahasa Ind:Content Video Dalam Sebuah Video Wedding)

      There are people who ask me, how do you make a good story line in a wedding so that the result of the documentation looks good and not disappointing?
      (Ada orang yang tanya, mas Bagaimana membuat alur cerita yang bagus dalam sebuah wedding video supaya tampak bagus dan tidak mengecewakan?)

      Content of a good video documentation is very closely related to the events we cover and also the way we package the video in the form of editing and mixing. The variation in the use of camera can also give a big impact on the results of finished video . The more various techniques used with the camera in terms of viewing, will result in less monotonous composition of the video and this gives significant effect on the result of finished video. (just look at the viewing in the previous article I wrote for tips)
      (Konten atau isi video yang bagus kaitannya erat sekali dengan acara yang kita liput dan juga cara kita mengemas video dalam bentuk editing dan mixing gambar. Variasi dalam kita menggunakan kamera juga bisa memberi dampak besar pada hasil video yang kita liput. Semakin kita variatif dalam teknik menggunakan kamera dan viewing, maka komposisi dalam video yang kita liput tidak akan monoton dan ini juga berdampak besar sekali pada hasil akhir video. (coba lihat pada viewing pada artikel sebelumnya yang sudah saya tulis)

      In order to make events that we shoot complete and "colorful" what I usually do is first ask about the session of the event arranged in the previous day of the wedding. The more we want to shoot the session before the wedding such as the ritual for example Siraman(Javanese pre-wedding ritual), Midodareni( Event of wedding ritual before the wedding such as worship service(Christian / Catholic wedding) and "giving thanks" celebration) , the more content for the wedding we get.
      (Maka supaya acara yang kita liput itu komplit dan variatif biasanya yang saya lakukan adalah pertama menanyakan soal acara yang diadakan untuk hari perayaan maupun sebelumnya. Semakin kita mau meliput dari acara sebelum pernikahan seperti siraman, midodareni, atau syukuran makan kita akan mendapatkan banyak konten atau isi dari video kita)

      In Indonesian context if we want content video to be complete then we have to be willing to know the culture or ritual of certain wedding. Although we often time uninformed about it due to different kinds of ritual that we face then it is safer if we follow every steps of the wedding. By itself we will understand about the process of ritual of a wedding.
      (Maka supaya isi komplit dari sebuah video kita harus mau tau tentang budaya maupun adat dari sebuah pernikahan. Walaupun sering kali kita tidak tahu maka cara termudah adalah mengikuti setiap acara yang diadakan oleh pihak pengantin. Dengan sendirinya maka kita akan mengerti tentang proses ritual dari sebuah wedding).

      Packaging video usually has its own process just like when a person writes a book. The packaging format I usually use is as follow:
      (Untuk pengemasan video biasanya ada alurnya persis seperti kalo orang membuat sebuah buku). Video wedding biasanya yang sering saya pakai adalah sebagai berikut:)

      1. Menu (optional): menus are typically used so that people who want to watch can simply select the content. Dvd video menu making is usually very easy to create because usually it's instantenous in the Editing Software. Making the menu is not an absolute thing to do but if the bride / groom wants the dvd menu, why not give it a go head.
      (1. Menu (opsional): menu biasanya digunakan supaya orang yang mau menonton bisa langsung memilih pada kontennya. Membuat video dvd biasanya mudah sekali untuk membuat sebuah menu. Pembuatan menu tidak mutlak untuk dilakukan tetapi jika pihak pengantin menghendaki sebuah menu, apa boleh buat anda sendiri harus membuatnya)

      2. Label your video service: To be known by people of course you want to display your video production service so that it can be remembered lastingly by many people. Video label service is usually followed by the word "presents/ presenting"........ just like Hollywood style movie.
      (2. Label Jasa video anda: Untuk dikenal banyak orang pasti anda ingin menampilkan tulisan tentang nama jasa video anda supaya dikenang banyak orang. Label jasa video biasanya diikuti dengan kata atau ucapan "mempersembahkan / presents", persis seperti filem gaya Hollywood.)

      3. Overview of video / slideshow of overall event: Showing the overview of video wedding typically, we can use photos slideshow of wedding still-shots taken containing session of certain event. When we cooperate well with Photografer then we can take this advantage to make good photo slide show. If not, then we should capture it in the form of still picture. Creating a photo slide show is now offered by many software companies that you can do almost instantly. You as a producer must have a fine taste of art so that your photo slide show will appear attractive and artistic.
      (3. Selayang pandang isi video/ photo slideshow of overall event : Menampilkan selayang pandang biasanya bisa kita lakukan dengan menampilkan slideshow photo pengantin atau foto alur acara yang sudah dilakukan. Bila kita bekerja sama dengan photografer maka kita bisa memanfaatkan foto-foto yang baik sebagai slide show. Jika tidak maka kita harus mengkapturenya dalam bentuk foto-foto. Membuat foto-slide show sekarang ini banyak sekali yang ditawarkan. Anda sebagai produser harus punya cita rasa seni yang tinggi supaya tampilan foto slide show akan tambil menarik dan artistik.)

      3. Introduction / Intro takes: Although the introduction / intro takes is short but it's no less important to have it. We can fill part of the introduction with the situation before the wedding begins. We can shoot the building; the wedding stage; bridesmaids; the meal with decoration; visitors who are arriving; Reception girls who accepts guest; and other decorations. If the bride and the groom comes, be quick not to loose a chance to shoot the arriving car until they are out of the wedding car. If a photographer takes pictures of them posing in front of the wedding car it is good idea if you take this opportunity to shoot the scene as well. Try to angle your video-camera in many various ways possible. Play your ability to use the video camera as much as you can. (3. Awalan / Intro takes: Walaupun awalan / intro takes pendek tetapi ini penting supaya ada setelah selayang pandang. Kita bisa mengisinya dengan keadaan lingkungan sekitar sebelum acara pernikahan dimulai. Kita bisa mengambil gambar gedung; panggung pengantin; pengiring pengantin; makanan yang disediakan; pengunjung yang datang; penerima tamu; dan dekorasi. Apabila pengantin sudah datang, cepat-cepatlah mengambil kedatangan mobil sampai dia keluar dari mobil pengantin. Apa bila dia berfoto/berpose didepan mobil pengantin alangkah baiknya anda memanfaatkan kesempatan ini untuk mengambil cuplikannya. Usahakan supaya angle atau viewing variatif. Mainkan kemampuan anda menggunakan kamera sebisa mungkin).

      4. The main event / the main scene: Make it sure all parts of the main session is in your documentation. For this you must study the agenda of the wedding being held. If you do not know, you can try ask those in charge of the event.
      (4. Acara utama/ the main scene: Pastikan semua bagian dari acara utama itu ada di dokumentasi anda. Untuk ini anda harus mempelajari agenda acara pernikahan yang diadakan. Bila anda tidak tahu, usahakan anda bertanya kepada pihak yang mengadakan acara).

      5. Concluding session / Concluding scene: The last session of a wedding is no less important than the main session. Usually in the last session you'll find people still greet each other and shakes hands; takes pictures with the family together or may be both the bride and the groom are doing wedding pose ; or may be also they have a meal together; and last but not least the two love-birds are getting back to the wedding car. These scenes we can shoot as well to be put as an ending of a wedding video.
      (5. Acara terakhir/ Concluding scene: Acara akhir dari suatu bernikahan tidak kalah pentingnya dengan acara utama. Biasanya dalam acara terakhir orang sekedar salam-salaman; berfoto bersama; makan bersama khusus pihak pengantin; pulang menuju mobil. Peristiwa ini bisa kita manfaatkan untuk mengemas bagian akhir dari pernikahan)

      6. Closing / Ending:Photo Slideshow can be used for ending of a wedding video documentation. We can repeat the photo-slideshow that we use at the beginning. We can also thank all those involved in the procurement of this documentation. We can also congratulate and extend our hopes for the newly wed. We can also use quotation of poems specially the romantic one that sends a message " They live happily ever after in the loving relationship"
      (6. Penutup / Ending: Ending dari suatu pernikahan untuk suatu dokumentasi video bisa kita gunakan photoslideshow dibagian paling akhir. Kita bisa mengulang kembali photo-slideshow yang kita gunakan di awal. Kita bisa juga mengucapkan terima kasih kepada semua pihak terkait dalam pengadaan dokumentasi ini. Kita juga bisa mengucapkan selamat menempuh hidup baru atau menggunakan "quot puisi" khusus tentang percintaan yang intinya
      "hidup bahagia untuk selama-selamanya pada akhir suatu perjalinan cinta kasih")

      Thus in brief outline the story-line or the parts of a wedding documentation.
      Demikian sekilas garis besar untuk alur cerita atau bagian dari sebuah dokumentasi wedding.